
SEGERA TERBIT!
P Swantoro pernah berkata, “masa lalu selalu aktual”. Yang terjadi hari ini akan selalu menyambung dengan peristiwa yang mendahului dan yang akan datang. Itu berarti, segala peristiwa dan produk dari masa lalu masih akan selamanya berkait-kelindan. Tak ada lagi racauan jumawa “yang sudah ya sudah” untuk hal-hal yang terjadi pada masa lampau.
Untuk itu sebenarnya mengais jejak-jejak bersejarah yang terkubur dan menghadirkannya kembali sekarang adalah bagian dari memahami dan memaknai hari ini. Semangat serupa itulah yang mengantarkan saya pada akhirnya menerbitkan buku ini—sebuah buku yang sepenuhnya bercerita tentang masa lalu, tepatnya karya sastra yang terbit pada masa lalu, bahkan ada yang melebihi satu abad lampau.
Karya-karya itu adalah Lawah-Lawah Merah (1875) karya Louis René Delmas de Pont-Jest; Sair Rempah-Rempah (1918) dan Mata Gelap (1914) karya Marco Kartodikromo; Kudus dalam Gelap Gulita (1941), karya AA Achsien, dan Perawan Desa (1929) karya WR Supratman. Lima esai panjang di buku ini berkisar di seputar karya-karya tersebut.
Tak dapat dipungkiri, kajian sastra pra-Indonesia sangat penting untuk memperkaya pemahaman kita mengenai sejarah bangsa. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap karya-karya sastra ini, kita bisa melihat bagaimana proses pembentukan kesadaran kolektif terhadap bangsa dan negara mulai bergulir sejak lama, bahkan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sastra menjadi cermin bagi dinamika sosial-politik yang berkembang dalam masyarakat saat itu, serta bukti hidup bagaimana perjuangan dan perlawanan berlangsung dalam bentuk yang lebih halus dan simbolis.
JUDUL: PANDANGAN MENGUSIR: Sastra Pra-Indonesia dan Wacana Kolonial
PENULIS: Widyanuari Eko Putra
GENRE: Esai, Kritik Sastra
TEBAL: xii – 129
UKURAN: 13 cm x 20 cm
HARGA:Rp85.000
PEMESANAN: 085225036797